Smartphone yang Paling Laris di Bulan Ini – I ni minggu-minggu banjir diskon, banting harga, jor-joran jualan bagi para pebisnis ponsel, khususnya pedagang, retail juga distributor. Bukan saja lantaran memasuki masa jelang Lebaran yang diwarnai dengan pembelian barang oleh konsumen. Tetapi juga sudah bermunculan produk atau seri baru. “Minggu lalu, banyak yang mencari BlackBerry dan Android,” ujar Diana, pemilik toko ponsel dan aksesori berskala menengah di Mal Ambasador, Jakarta Selatan, pada Senin (23 Juni). Harapannya pedagang akan tersenyum lebar. Bisa pulang kampung bawa kocek banyak atau paling tidak menutup selisih margin semester satu yang nyaris jeblok. Sementara kita sebagai konsumen diberi tawaran menarik untuk cepat-cepat ganti perangkat yang sudah uzur.

Terutama pengguna BlackBerry yang tak bisa ke lain hati. Gejala ini jelas sangat berbeda dengan setahun hingga tiga tahun silam. Mengapa? Tidak lain oleh sebab munculnya beberapa seri smartphone dengan harga menggiurkan padahal sekelas ponsel kelas menengah yang umumnya dipatok di kisaran Rp 3 juta sampai 3,5 juta perak. Dulu, fenomena macam ini tak ada. Kita hanya bisa “dibingkin” manyun oleh harga-harga yang masih tinggi. Sekarang? Lain.

Smartphone Terjangkau

Adalah lumrah harga smartphone terjangkau pada brand lokal yang dari dulu sangat spartan main-main banderol. Asal sanggup jual volume tinggi, menekan biaya, maka untung pun menunggu. Tentu saja kebijakan seperti ini mengganggu pemilik brand internasional, yang produknya disegani, harganya pun masih tinggi pula. Tetapi tiba-tiba, Asus bikin gebrakan. Ketika Jonney Shih, Chairman Asus datang ke Indonesia untuk merilis tiga seri gacoannya (Zenfone 4,5,6) bilang, setiap seri dijual seharga Rp 1,1 juta, Rp 2,1 juta, dan Rp 3,1 juta, bursa ponsel Asia, khususnya Indonesia (yang jadi tuan rumah perilisan secara dunia) gempar. Bandingkan tiga seri berlainan spesifkasi ini dengan seteru sekelasnya masing-masing. Ditambah nama Asus yang boleh masuk hitungan brand divisi satu.

Baca Juga : https://teknorus.com/5-game-psp-terbaik-2016/

Semuanya lewat. Fenomena smartphone premium (meminjam kata Jerry Shen, CEO Asus) berharga terjangkau dimulai saat itu, pada April itu. Walaupun sebenarnya ancang-ancang juga tengah dilakukan oleh nama besar seperti BlackBerry yang belum merilis satu pun seri di periode Januari – Maret 2014 (kuartal 1). Sempat mendapat tanda tanya besar akan langkah mendatang, dijawab BlackBerry dengan mrilis seri Z3 yang sudah menggunakan OS 10 (tepatnya OS 10.2.1). Bukan soal gampang, karena konsumen terlanjur memandang bahwa semua produk OS 10 pasti di atas Rp 5 jutaan, persis seperti lahirnya seri BlackBerry Z10 dilanjutkan Q10, Q5 dan Z30. Tapi Z3 bak mencairkan kebekuan itu. Pasar dikagetkan oleh harga fantastis yang tidak pernah dilakukan oleh BlackBerry selama ini. Z3 hanya Rp 2,1 juta. Sementara jika melihat ke belakang, harga perangkat BlackBerry paling murah di pemunculan perdananya paling murah Rp 2,5 juta. Itu pun dianggap sebagai perangkat kelas biasa berharga luar biasa. Si pemilik nama lain Jakarta itu jadi lebih terjangkau, salah satunya oleh sebab dipabrikasi I Foxconn. Cita rasa Tiongkoknya amat kental.

Tetapi tetap memakai prosesor Qualcomm, sehingga setidaknya tak akan dianggap kelas murahan. Dan, ini adalah awal dari BlackBerry mengunjungi pasarnya di segmen menengah. DI kelas atas yang fanatic masih ada Z30. Motorola bikin gundah pabrikan lain. Tanpa promosi kencang, lalu menelusup lewat toko online dan perlahan ditarik pula oleh toko tradisional dan modern. Faktor harga adalah lokomotif yang bikin Moto G jadi bahan pembicaraan. Nama Motorola yang nyaris tenggelam paling tidak ikut terdongkrak agar eksis kembali.

Pedagang Main

Tetapi faktanya, tidak mudah memperoleh smartphone brand global harga terjangkau ini. Serbuan pedagang menarik sebanyakbanyaknya produk untuk dijual kembali pun menggelombang. Di sisi lain, diakui oleh pemilik brand bahwa arus masuk barang agak tersendat. Akibatnya lebih tinggi permintaan ketimbang ketersediaan. Bisa ditebak, bagi pedagang pun kesempatan besar menambah margin dengan menaikkan harga jual. Bahkan penjual sempat ketiadaan stok. “Asus barangnya sudah dicari, kita aja terbatas dan cepat laku,” kata Gugum, awak toko yang berlokasi di Roxy Mas, Jakarta Barat. Cerita BlackBerry Z3 sampai melejit di angka Rp 2,4 – 2,5 juta juga persis. Bahkan harga segitu sempat pula berlaku di toko modern milik Erajaya Group.

Namun BlackBerry Indonesia menyatakan naiknya harga bukan lantaran stok terbatas. Sementara Erajaya terpaksa harus melakukan langkah seperti ini semata demi agar tak dibeli oleh pedagang biasa yang bisa seenaknya menaikkan banderol. “Kebijakan kita menaikkan harga tetapi dengan di-bundling powerbank, dan beberapa layanan lain,” ujar Djatmiko Wardoyo, Direktur Corporate Communication Erajaya Group. Akibatnya, konsumen pun terpaksa membeli seri-seri tersebut dengan harga di atas angka resmi yang diumumkan. “Ya mau gimana lagi, terpaksa nambah uang. Tapi daripada gue beli BB Z10?” kata Satria, yang menjual seri BB Dakotanya, dan kemudian mendapatkan Z3. Bisnis ponsel memang seperti jualan sayur. Produsen kadang juga tak berani menyetok terlalu banyak. Sementara kondisi antara demand dan supply bisa dimainkan oleh pedagang. Di sisi lain, memang tak ada aturan pemberlakuan harga tetap. So, kalau Anda rela menambah sedikit uang dijamin pasti dapat. Tetapi… jangan mengacu pada harga resmi, karena faktanya di pasar bisa berubah.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *