Ada dua faktor yang dapat memengaruhi berubahnya karakter, yaitu faktor internal dan eksternal.

  1. Faktor INTERNAL (kognitif dan afeksi).

Terdiri atas kemampuan berpikir, membayangkan dan merasakan suatu peristiwa yang dialami, baik diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan kemampuan berpikir dan meningkatkan kecerdasan emosi anak yang bertujuan untuk membentuk karakter positif.

Misal, anak usia 2 tahun mudah marah meledak-ledak jika tidak dituruti kemauannya, karena kemampuan berpikir mengenai alasan lingkungan tidak mengabulkan keinginan dan kemampuan mengomunikasikan perasaan kecewa ataupun marah masih terbatas. Karena itu, peran orangtua untuk mendidik anak agar memiliki karakter mampu berpikir logis (apakah keinginannya tidak berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain), memahami situasi (apakah situasinya memungkinkan untuk mewujudkan keinginan atau harus ditunda dulu), dan mengendalikan emosi (apakah cara untuk mengungkapkan kekecewaan sudah tepat dan sesuai dengan norma sosial) sangat penting.

Tiga aspek dalam pembentukan karakter, yaitu memberikan pengetahuan agar anak mengetahui mana yang baik dan yang buruk, memberikan kemampuan anak untuk merasakan yang pantas dilakukan dan tidak pantas dilakukan, serta melatih kemampuan anak untuk berperilaku yang sesuai dengan norma sosial harus dilakukan orangtua. Tanpa proses pembelajaran dari orangtua, maka perilaku marah yang meledak-ledak serta sifat impulsif (setiap keinginan harus segera terpenuhi) pada anak usia 2 tahun ini, dapat terbawa pada tahap perkembangan selanjutnya.

Kegagalan anak untuk mengembangkan karakter yang tepat di usianya dapat menghambat pengembangan karakter di tahap usia berikutnya. Contoh, ketidakmampuan anak untuk mengendalikan emosi di usia berikut akan menyebabkan ia kurang disukai, dijauhi oleh teman sebaya, khususnya saat anak mulai masuk usia sekolah. Situasi ini dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk menjalin kerja sama dengan orang lain, sehingga dapat mengakibatkan anak kurang percaya diri.

  1. Faktor EKSTERNAL

Jika anak hidup di lingkungan yang biasa melontarkan umpatan serta perilaku agresif dan melihat bahwa orang yang berperilaku agresif disegani atau ditakuti, maka anak cenderung akan memiliki karakter yang cenderung agresif pula, baik verbal maupun perilakunya. Kemampuan kontrol emosi dan menghargai orang lain juga cenderung tidak dimiliki. Hal ini terjadi karena anak memersepsikan perilaku agresif sebagai perilaku yang menguntungkan bagi dirinya sehingga ia akan meniru dan mengulang perilaku agresif.

Peran orangtua untuk mengajari anak menilai suatu perilaku yang ada di lingkungan sebagai sesuatu yang baik atau buruk, sangatlah penting. Pembentukan karakter juga dipengaruhi oleh kekonsistenan orangtua dalam mengajarkan perilaku tersebut. Jika orangtua mau anaknya memiliki karakter jujur, maka menjadi kurang tepat jika saat anak mengakui kesalahan, orangtua memberi hukuman. Mengapa?

Karena dengan memberi hukuman, anak justru akan belajar untuk berbohong, menutupi kesalahan atau menyebabkan anak cenderung pasif, tidak mau mencoba daripada berbuat salah. Bukankah lebih bijak jika memuji keberanian anak untuk bersikap jujur dan membantu anak untuk menyusun strategi agar kesalahan yang sama tidak terjadi di masa mendatang? Perlu disadari, memberikan hukuman pada anak justru tidak membuat anak belajar menyadari kesalahan dan tidak melatih anak untuk memiliki perilaku yang lebih sesuai di masa depan.

Simak juga informasi lengkap mengenai tempat terbaik les bahasa Jerman di Tangerang.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *